Ini Untuk Kamu
Dear,
Aku tahu waktu tak banyak membantu apa yang sudah tercerai
beraikan olehnya. Maka dari itu, kumaksudkan hati menulis pesan ini yang
nantinya akan kujadikan surat untukmu. Sebelumnya, izinkan aku meminta maafmu
seluas samudera, aku tahu tak banyak yang dapat kuberi disepersekian waktu yang
dimalamnya kutingggalkan kamu sendiri. Izinkan aku meminta maaf untuk itu, karena aku
tahu betul bagaimana lelahnya kamu berjuang sendiri. Saat kamu mengetuk dan aku
sama sekali tak menggubris, apalagi membukanya. Saat apa-apa yang kamu janjikan
kuacuhkan dengan sempurna. Untuk itu, maaf beribu kali. Aku tak bermaksud, pun
aku tak paham benar apa yang akan aku lakukan saat itu. Aku tidak cukup siap
untuk ada di posisi itu, jika kau mengerti. Aku sungguh tak bermaksud menggoreskan
luka pada hati yang tulus kau beri itu. Aku hanya tidak begitu paham mengapa
kau begitu kekeuh memperjuangkan orang yang berusaha membuangmu jauh. Aku. Kamu
begitu hebat membuat aku terlihat sangat sangat jahat. Meskipun pada akhirnya
aku memang pantas untuk itu.
Lalu, terima kasih. Terimakasih telah berjuang sendiri
selama berbulan-bulan tanpa kusadari. Terimakasih telah jadi satu-satunya yang
paling kuat bertahan untuk apa yang aku sendiri masih belum mengerti.
Terimakasih, karena kamu mengajarkanku bahwa pergi bukan satu-satunya jalan,
meskipun ia hadir sebagai pilihan. Karena kamu mampu bersabar saat mataku
terbuka lebar namun hatiku tertutup rapat persis tanpa celah. Terima kasih
telah menjadi pundakku, meski tak pernah kumanfaatkan dengan benar. Sabarmu,
terima kasih telah hadir dan menunggu dalam jangka waktu yang panjang. Telah
mengisi sudut-sudut yang aku sendiripun tak peduli jika ia harus kosong. Terima
kasih telah menjadi pahlawanku, melindungi dan menjaga tanpa kuminta. Bersedia
menunggu di bibir pintu untuk mengawasiku dari baliknya. Kamu hebat dan aku
menyedihkan, menjadikanmu terpukul pada setiap purnama.
Aku senang mengenalmu, seseorang yang begitu kubutuhkan dan
tak pernah kusadari sebelumnya. Aku senang sempat bercakap denganmu, seseorang
yang ketika bertutur denganku begitu hati-hati dan menjaga. Aku mencintaimu,
masih. Karena kamu begitu menghormati apa-apa yang kuputuskan sepihak. Seperti
perpisahan kita dulu. Aku tak mengerti mengapa pagi itu tidak kau bantah
kalimatku, tidak kau tahan aku untuk pergi, tidak kau coba ambil alih bohongku.
Aku paham betul kau begitu terpukul. Dan sekali lagi, aku tidak bermaksud. Aku
sadar aku egois, pun saat aku mencoba membuat surat ini aku tak berhenti
berdebat dengan diriku sendiri, bahwa aku tak seharusnya begini.
Aku butuh kamu, aku butuh kamu untuk melindungiku lebih
lama. Menjagaku lebih dekat. Jika boleh kutahu satu hal, kamu apa kabar? Masih
adakah tempat untukku? Kali ini takkan ku kecewakan hatimu yang berlindung olehku.
Takkan. Kali ini, biarkan aku memperbaiki semua, apa-apa yang dulu sempat hancur
bahkan sebelum ia sempat kau bangun. Bisakah
kamu bantu aku untuk melihat lebih jauh ke belakang? Bahwa sesungguhnya ada
sesuatu yang tertinggal, ya aku. Aku masih terduduk di bangku yang sama. Namun
jangan memintaku berhenti, apalagi pergi. Aku baru saja ingin memulai.
Aku tidak menyalahkanmu untuk ini, sama sekali tidak pernah.
Aku justru bersyukur memilikimu sebagai pewarna hari. Meskipun dulu katamu
mataharimu masih ada, padahal aku sama sekali tidak di sana. Sayang, maaf sebab
telah bersedia jatuh berkali-kali karena ku, saat aku sendiri enggan memijak
bumi. Aku ingin kamu menjadi satu-satunya alasan aku untuk memperbaiki kesalahan
aku. Sebab aku merasa begitu harus. Aku rindu. Aku butuh kamu, lagi. Aku ingin
jadikan kamu pulang ku, Bersediakah?
Love, me.
Komentar
Posting Komentar